7th Annual Conference for Muslim Scholars 2025: Menggali Kearifan Lokal Menuju Harmoni Global
Surabaya, 23 Oktober 2025- Kopertais Wilayah IV Jawa Timur kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan intelektual Islam berbasis kearifan lokal melalui kegiatan 7th Annual Conference for Muslim Scholars 2025. Seminar yang mengusung tema “From Local Wisdom to Global Harmony: Nurturing Love and Tolerance in Islamic Scholarship” ini diselenggarakan di Surabaya pada awal tahun 2025 dan dihadiri oleh berbagai kalangan akademisi, peneliti, serta cendekiawan muslim dari seluruh Indonesia.
Acara ini menjadi wadah penting bagi para sarjana muslim untuk mendiskusikan warisan budaya, manuskrip Islam lokal, serta peran kearifan lokal dalam membangun peradaban Islam yang inklusif, cinta damai, dan berkelanjutan. Pembukaan acara dilakukan oleh Koordinator Kopertais Wilayah IV Jawa Timur, Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D. yang menekankan pentingnya kolaborasi akademik lintas lembaga dan generasi untuk memperkuat posisi Islam Indonesia dalam wacana global.

Dalam sesi pertama, H. Farid F. Saenong, M.A., Ph.D. memaparkan hasil penelitiannya mengenai 44 manuskrip Bugis-Makassar yang berkaitan dengan seni hubungan suami istri dalam konteks sufistik. Dari jumlah tersebut, hanya 17 manuskrip Bugis yang masih utuh dan dapat dibaca dengan baik. Ia menjelaskan bahwa manuskrip-manuskrip ini bukan sekadar catatan budaya, tetapi juga menyimpan nilai-nilai spiritual yang berakar pada ajaran Islam, khususnya yang mengajarkan cinta, kesetiaan, dan toleransi dalam hubungan manusia. Penyesuaian lokal terhadap unsur tradisi Syiah yang dilakukan masyarakat Bugis dan Makassar juga menunjukkan kemampuan budaya lokal untuk menyesuaikan diri secara damai tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Muhammad al-Marakeby, yang membahas tentang perbandingan sistem hukum Islam dengan sistem hukum negara modern. Ia menegaskan bahwa dalam Islam, terdapat konsep pluralisme hukum yang memberikan ruang bagi komunitas agama lain untuk menjalankan hukum pribadinya masing-masing, seperti dalam hal pernikahan dan keluarga. Menurutnya, prinsip ini lebih menghargai kebebasan dan keadilan sosial dibandingkan model negara modern yang seringkali menyeragamkan hukum hingga menutup ruang ekspresi keagamaan minoritas.
Kemudian, Prof. H. Abdul Kadir Riyadi, Ph.D. menyoroti pentingnya kearifan lokal sebagai fondasi etika sosial dan spiritual bangsa. Ia menjelaskan bahwa kekuatan sejati bangsa Indonesia terletak pada kecerdasan moral dan etika kehidupan yang tumbuh dari nilai-nilai agama, bukan hanya dari capaian intelektual formal. Ia juga mengingatkan tentang ancaman globalisasi dan budaya asing yang dapat mengikis identitas lokal bila tidak disikapi dengan bijak dan selektif.
Dalam sesi strategi pengembangan warisan Islam lokal, Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D. mengumumkan rencana penyelenggaraan Konferensi Internasional pada akhir November 2025. Acara tersebut akan mengangkat tema besar tentang Pesantren Islam Indonesia sebagai Model Baru Tata Dunia dan Peradaban Global Pasca-Konflik Palestina–Israel. Rencana ini didukung oleh berbagai lembaga dan akademisi internasional, dengan tujuan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keilmuan Islam yang damai dan moderat di dunia.
Selain itu, diskusi juga menyoroti pentingnya penguatan perspektif lokal dalam wacana Islam global. Pendekatan dekolonisasi pemikiran Islam dianggap perlu agar suara dan metodologi keilmuan Islam Indonesia tidak tersisih oleh narasi orientalis. Moderator dan peserta sepakat bahwa penggabungan nilai-nilai cinta, toleransi, dan warisan budaya lokal dapat menjadi kontribusi nyata umat Islam Indonesia terhadap dialog global dan perdamaian dunia.

Kegiatan ini ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada para narasumber dan moderator, serta sesi foto bersama sebagai simbol ukhuwah ilmiah antarperguruan tinggi Islam. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, para pembicara dan panitia berkomitmen melanjutkan riset, publikasi, dan pengembangan studi Islam berbasis kearifan lokal. Dr. Muhammad al-Marakeby akan memperdalam kajian manuskrip Bugis-Makassar, H. Farid F. Saenong, M.A., Ph.D. menyiapkan publikasi tentang naskah-naskah lokal, sementara Prof. H. Abdul Kadir Riyadi, Ph.D. fokus memperkuat etika praktis dalam Islam Indonesia.
Kegiatan 7th Annual Conference for Muslim Scholars 2025 ini menegaskan bahwa warisan budaya Islam Nusantara bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi merupakan sumber inspirasi moral dan spiritual yang relevan untuk menjawab tantangan zaman. Melalui pendekatan akademik yang berbasis cinta, toleransi, dan kebijaksanaan lokal, Kopertais Wilayah IV Jawa Timur berharap dapat memperkuat kontribusi Indonesia dalam membangun peradaban Islam yang damai dan berkeadaban di tingkat global.





